Celakanya Abrahah dan Pasukannya

Selasa, 02 Juli 2013

Celakanya Abrahah dan Pasukannya

Abrahah dan Pasukannya
Celakanya Abrahah Al-Habsyi dan pasukan penunggang gajahnya, sering kita dengar kisah tentang Abrahah yang binasa bersama pasukan bergajah saat kita masih kecil dulu, sekarang saya ingatkan lagi biar lebih fresh.

Bila anda pernah membaca Al-Qur'an maka akan anda temukan Surah Al-Fil (الفيل)

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (1) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ(5

Di sana anda akan diceritakan bagaimana akhir kisah tentara penunggang gajah yang dipinpin oleh Abrahah Ibn Assobbah Al-Asyram. ( Sebenarnya dalam Ayat Al-Qur'an tidak pernah menyebut nama Abrahah ) tapi karena sudah sangat terkenal yang memiliki tentara bergajah saat itu adalah Abrahah maka para Ahli tafsir mentafsirkan Ashaabul Fiil dengan Nama Abrahah ( Wallahu A'lam Bisshowab )

Abrahah sendiri terkenal dengan julukan Abrahah Al-Habasyi atau Abrahah Al-Asyram atau yang terkenal dengan sebutan Abramus dalam bahasa latin, dia adalah pemimpin pemberontak yang hidup di yaman sekitar tahun 531M sampai dengan 542M dia memeluk agama kristen ortodok dia membangun Gereje di yaman dengan nama Al-Qulais, lalu dia ingin menjadikannya sebagai tempat yang dikunjungi oleh jamaah Haji kala itu.

Gereja Abrahah
Kejadian ini terjadi pada saat Abdul Muttalib menjabat sebagai peminpin kota makkah baik dalam kepemerintahan maupun peribadatan.

Semua ini bermula dari sifat sombong dan angkuh yang telah menyelimuti hati penguasa negeri Yaman itu.

Setelah Abrahah memerintahkan untuk membangun gerejanya yang bernama Al-Qulais, Abrahah berkeinginan untuk menjadikan Gereja Al-Qulais menjadi Qiblat tujuan utama penduduk Arab dalam melaksanakan Haji dan Towaf nya.

Ternyata tingkahlaku Abrahah itu bukan mendapat sambutan hangat dari kalangan Arab, melainkan kemarahan yang Abrahah dapatkan dari ulahnya yang aneh ini.

Namun setelah Abrahah mengetahui respond dari kalangan Arab yang menolak mentah-mentah ide dan keinginannya, Abrahah murka dan bersumpah untuk menyerang Arab.

Kemudian disiapkanlah pasukan penunggang gajah tujuan utama adalah menghancurkan Ka’bah baitullah yang saat itu merupakan saingan terbesar bagi gereja Al-Qulais.

Setibanya Abrahah di daerah Mughommas (di jalan toif) Abrahah mengutus salah seorang dari etopia (anak buah abrahah) yang bernama Aswad bin Maqsud untuk memasuki kota Makkah dan meminta harta rampasan dari kalangan Quraisy dan Qabilah yang lain, diantara rampasan itu adalah 200 ekor unta milik Abdul Muttalib ibn Hasyim (kakek Rasulullah), padahal pada saat itu Abdul Muttalib sebagai pembesar Suku quraisy, namun suku Quraisy dan suku suku lain yang ada di makkah tak berdaya menghadapi tangguhnya tentara bergaja milik Abrahah.

Lalu Abrahah mengutus lagi Hunatah Al-Humairi untuk mencari pemimpin penduduk makkah, dan menyampaikan pesan Abrahah yang berbunyi:

Bahwa Aaku (Abrahah) datang bukan untuk memerangi atau membunuh kalian (penduduk kota makkah), manun tujuanku adalah Menghancurkan Ka'bah ( Baitullah, Qiblahnya Muslimin sekarang), bila kalian tidak menghalang-halangi aku maka tidak perlu untuk mengorbankan nyawa kalian, dan bila pembesar Makkah (Abdul Muttalib kala itu) tidak mau memerangiku maka hadirkanlah dia dihadapanku.

Setelah Hunatah masuk Makkah dan bertemu dengan Abdul Muttalib, Maka Hunatah menyampaikan pesan Abrahah.

Abdul Muttalib berkata: Demi Allah, kami tidak ingin berperang dan kami tidak sanggup untuk melawannya ( mengingat tentara abrahah sangatlah tangguh ), ini Rumah Allah ( Rumah Milik Allah ) dan Rumah kekasih Allah Ibrahim (Rumah yang di bangun Ibrahim 'alaihissalam) , bila Allah tidak melindunginya maka aku tidak akan sanggup untuk melindunginya.

Lalu Hunatah mengajak Abdul Muttalib untuk menemuhi Abrahah.

Pasa saat itu Abdul Muttalib adalah lelaki tertampan dan berwibawa, pada saat abrahah melihat Abdul Muttalib seketika itu juga Abrahah menghormatinya, bahkan enggan untuk duduk di atas sedang Abdul Muttalib duduk di lantai, tapi demi menjaga wibawah di depan pengingutnya Abrahah tidak mau mendudukkan Abdul Muttalib di Atas singgasana Abrahah maka abrahah lah yang ikut duduk di lantai, dan mengajak Abdul Muttalib duduk di sampingnya.

Abrahah memerintahkan penerjemahnya untuk bertanya: Apakah yang di inginkan oleh Abdul Muttalib ?

Abdul muttalib menjawab: Aku ingin engkau mengembalikan 200 ekor untaku yang telah engkau ambil.

Setelah Abrahah mendengar keinginan Abdulmuttalib, maka Abrahah berkata:

Engkau sungguh membuatku tertarik padamu, dan cara bicaramu membuat aku tidak lagi ingin sesuatu darimu, sekarang apakah engkau berbicara mengenai 200 ekor unta lalu kau membiarkan aku menghancurkan Ka’bah ?!

Abdul Muttalib menjawab: Aku adalah yang punya unta sedangkan Ka’bah ada yang punya.

Setelah Abrahah mengembalikan 200 ekor unta milik Abdul Muttalib, langsung Abdul Muttalib memerintahkan penduduk Makkah untuk menghindar dari tentara Abrahah.

Lalu Abdul Muttalib berdo’a agar Ka’bah diselamatkan.

Begitu Abrahah bersiaga untuk memasuki kota Makkah, gajah yang ditunggangi para tentaranya tidak mau berdiri, bahkan dipukulpun unta itu tidak mau berdiri.

lalu dicoba untuk berangkat menuju yaman, seketika gajah-gajah itu pada lari dengan kencangnya, Dicoba untuk menuju Syam begitu juga kencang larinya, namun begitu dipalingkan ke arah Ka’bah langsung duduk dan tidak mau bergerak.

Sehingga Allah mengutus Burung burung dari laut ( Ababil ) setiap burung membawa 3 butir kelikir, dan burung itu melempari Abrahah dan tentaranya sehingga mereka binasa bagaikan daun yang dimakan ulat (berlubang-lubang).

Abrahah sendiri tidak langsung binasa ditempat, melainkan disiksa dengan penyakit yang sangat menjijikkan sehingga mati di kampung halamannya sebagai peringatan pada yang lain.

Kejadian ini menunjukkan bahwa Allah maha kuasa, kejadian ini langsung tersebar di kalangan Arab, sehingga membuat Abdulmuttalib lebih di segani lagi.

Begitulah bila Allah menghendaki apapun bisa terjadi, surah Al-Fiil ini turun untuk memperingatkan Qoum Quraisy kala itu bahwa sebesar dan setangguh Abrahah saja tidak ada apa-apanya di banding kebesaran Allah yang melindungi Ka'bah, apalagi hanya kekuatan Quraisy yang jauh lebih kecil daripada pasukan Abrahah, Juga merupakan peringatan bagi Ummat Manusia bahwa Allah mampu melakukan apa saja yang Allah inginkan.

18.32